Selasa, Desember 30, 2008

LEARNING TO BE

Aku bisa belajar dari apa yang dikatakan orang padaku
Aku bisa belajar dari apa yang dilakukan orang padaku

Ketika seseorang mengatakan aku pengecut,
aku bisa belajar dari kepengecutan itu,
Saat seseorang mengatakan aku brengsek,
Aku bisa belajar dari kebrengsekan itu,
Dan bila seseorang menyalahkanku,
aku bisa belajar dari kesalahan itu,

-------------
Suatu yang yang ”mungkin” bernilai negatif, bisa saja berubah menjadi suatu yang positif, jika memang ditanggapi dengan positif pula.

Apapun itu, terlepas apakah itu menyakitkan atau menyenangkan, pengalaman memberikanku ruang untuk dapat memaknai setiap detail peristiwa yang terjadi padaku hingga aku dapat menemukan suatu kehidupan yang bemakna...

Ga akan ada masalah jika kita mampu menyikapinya dengan kedewasaan dan kearifan. Semuanya akan terasa mudah.
So... Take it Easy...

15 Desember 2008

Rabu, November 26, 2008

DETIK-DETIKKU

Hujan mengguyur lebat. Begitu deras membasahi tanah yang semula tandus. Sungguh hebat kuasa-Nya, mendatangkan tetes demi tetes air langit yang menghidupi bumi setelah matinya, tapi sayang aku tidak dapat menikmati dan melihat keindahan air hujan yang mengguyur dengan pasti. “Tik…tik…tik…”, tetesan air membasahi tanganku. Ku tengadahkan kepalaku menatap langit-langit yang ada di sebuah ruang yang kutempati sekarang. Ternyata ada lubang kecil di sana. Aku berpindah ke pojok ruangan yang kurasa agak sedikit lebih nyaman. Dinginnya udara adalah satu-satunya temanku setiaku. Sesaat teringat kembali akan kehidupanku yang dulu, kehidupan yang tiada akan pernah kunikmati lagi.

***

Aku seorang gadis yang kurasa sangat beruntung dilahirkan ke dunia ini. Keluargaku sangat menyayangiku, ayah dan ibuku tentunya. Ayahku seorang pengusaha sukses yang memiliki saham di beberapa perusahaan besar. Ayah saat ini juga menjadi direktur utama di sebuah perusahaan jasa yang bergerak di bidang periklanan. Sosok ayah sangat kubanggakan. Selain cerdas, bertanggung jawab, ulet, pantang menyerah, ayah juga memiliki rasa humor yang tinggi hingga terkadang seperti tidak ada batas antara aku dan ayah sebagai orang tua dan anak. Karena itu tanpa kusadari terciptalah sebuah semboyan, “ayahku adalah temanku”.

Ibuku, walaupun tidak berkarier seperti ayah, ku rasa ibu memiliki prestasi yang tidak kalahnya bila dibandingkan ayah. Ibu mengukir prestasi dengan mengabdikan dirinya untuk mengurus keluarga. Tanpa pengabdian ibu, aku tidak yakin ayah akan menjadi sesukses ini serta aku yang menjadi sebahagia ini. Bagiku ia adalah sosok ideal yang pernah ada. Kurasa semua sifat positif ada padanya, ditambah lagi dengan ketaatannya dalam beribadah. Dibandingkan ayah, ibu memang lebih banyak mengambil peranan dalam keseharianku. Maklumlah karena ayah selalu sibuk dan lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Namun begitu, ayah tidak meninggalkan keluarganya begitu saja. Selepas pulang kerja, walau sudah malam, ayah selalu menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga baik ketika makan malam ataupun sekedar berkumpul sambil nonton TV dan berdiskusi “kecil-kecilan“, biasanya ayah menanyakan kegiatanku di sekolah, bagaimana pelajaranku, teman-temanku, guruku, apa yang membuatku sebel hari ini, dan masih banyak lagi yang kami diskusikan, aku ayahku, dan ibuku. Selain itu Ayah juga selalu meluangkan waktunya untuk keluarga pada akhir pekan.

Lalu, bagaimana halnya dengan saudara-saudaraku?. Hm,,, sepertinya Tuhan telah menakdirkan aku lahir ke dunia ini tanpa teman. Aku adalah anak satu-satunya dari ayah dan ibu. Maka dari itu, mereka sangat menyayangiku, apapun yang ku inginkan selalu dipenuhi, ya asalkan masih pantas buatku dan bermanfaat serta sesuai dengan kebutuhanku. Bahagia rasanya hidup seperti ini sampai kapanpun. Harapanku kebahagiaan ini akan berlangsung lama.

Sebagai manusia yang hanya bisa merencanakan, aku tersadar bahwa apa yang kuinginkan belum tentu akan selalu menjadi kenyataan. Dan sepertinya suatu pertanda mulai menampakkan jejakanya kepadaku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa keluargaku tidak seperti dulu lagi. Perasaan buruk itu semakin bertambah seiring dengan terjadinya beberapa peristiwa yang tidak seperti biasanya. Diawali dengan berkurangnya waktu berkumpul di akhir pekan. Sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya sangat jarang sekali. Secara logika aku bisa menerima keadaan ini, karena setahuku memang akhir-akhir ini ayah sering ke luar kota guna mengurusi proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, perasaanku mengatakan ada hal lain di balik semua itu.

Tidak hanya itu, sekarang ibu juga agak sedikit lebih tertutup. Aku tidak tahu pasti mengapa itu bisa terjadi. Dugaanku ada kegundahan di hati ibu mengenai pekerjaan ayah, tapi yang kulihat hubungan mereka berdua masih tetap harmonis. Lambat laun sepertinya perubahan itu mulai memuncak. Banyak hal yang biasa ayah dan ibu lakukan berdua tidak lagi terlihat olehku, bahkan kebiasaan mereka berdua kepadaku pun sudah mulai terasa memudar olehku. Lebih-lebih ibu suka mengurung diri di kamarnya hingga aku pun kesulitan menemui ibu padahal kami berada pada tempat yang sama. Dan ayah sangat sering keluar kota sehingga jarang di rumah. Ntah apa yang membuat keadaan menjadi seperti ini. Aku tidak mengerti dengan keadan ini, seingatku selama 18 tahun aku di dunia ini, keluargaku adalah keluarga yang sangat bahagia. Ataukah kebahagiaan yang terlihat selama ini olehku, ternyata menyimpan suatu “gundukan” yang akan meledak suatu waktu?, ntahlah. Satu persatu pertanyaan mendatangiku, selalu kucoba untuk menemukan jawabannya. Namun, tak satupun ku temui.

***

Senja yang begitu merah, seperti merahnya otakku berpikir mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi di keluargaku. Kemudian terlintas dipikiranku untuk menanyakan ini semua kepada ibu. “ya akan kutanyakan langsung ke ibu”.
Aku memberanikan diri menemui ibu yang sedang berada di kamarnya. “tok…tok…tok…,
Bu, boleh aku masuk?, ibu mempirsilahkan aku masuk. Kubuka pintu kamar ibu, kulihat ibu sedang membolak-balik majalah, tapi aku tahu bukan ini yang ibu lakukan sejak tadi.
“Bu”, aku mulai angkat bicara.

“ya”, kata ibu datar. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di keluarga ini, tepatnya antara ayah dan ibu. Sesaat ibu berhenti membolak-balikkan majalahnya. Degup jantungku terasa cepat menantikan sebuah jawaban dari ibu. Ku tatap ibu dengan penuh harap, ia akan menjawab pertanyaanku. Namun, ibu tak mengeluarkan sepatah katapun. Kulihat matanya yang indah mulai berkaca-kaca dan perlahan jatuh juga air matanya. Ibu menangis!. “ya Tuhan…, apakah aku telah menyakitinya dengan pertanyaan konyolku?”, gumamku dalam hati.

“Bu, maafkan aku, maafkan atas kelancanganku”, tanpa ku sadari akupun larut dalam kesedihan ibu.

“Tinggalkan Ibu sendiri, Nak!”, kata-kata yang tidak pernah ia lontarkan kepadaku. Aku bingung terhadap apa yang harus aku lakukan. Ibu mengulanginya lagi. Dengan terpaksa akupun berlalu dari ibu.

***

Pukul 01:45 dini hari. Tiba-tiba saja aku terbangun dan sangat susah bagiku untuk dapat memejamkan mataku kembali. Pikiranku mengarahkanku pada keberadaan ayah yang sejak ku injakkan kaki di kamarku, taptnya pukul sepuluh malam tadi, hingga saat ini belum juga pulang ke rumah, padahal hari ini ayah tidak ke luar kota. “ada apa dengan ayah?, apa yang terjadi dengannya?’, ya Tuhan,, lindungilah Ayah”. Hatiku resah mendapati hal ini. Tak lama setelah itu, kudengar suara mobil memasuki perkarangan rumah dan parkir di bagian halaman yang tepat terletak di depan kamarku. “ternyata Ayah”. Alhamdulillah akhirnya ayah pulang juga. Hatiku sedikit lebih tenang ketika ku tahu bahwa ayah pulang ke rumah. Dan sepertinya aku dapat melanjutkan mimpiku yang sempat tertunda. Baru beberapa saat aku memejamkan mata, kudengar ayah dan ibu yang sepertinya sedang memperdebatkan sesuatu. Entah apa yang mereka perdebatkan, semuanya terdengar samar olehku. Ku coba untuk menangkap lebih jernih pembicaraan mereka. Sayang, telingaku hanya dapat mendengarkan frekuensi yang sedikit lebih keras daripada perdebatan itu. Akhirnya kuputuskan untuk keluar kamar menuju ruang keluarga yang bersebelahan langsung dengan kamar ayah dan ibu. cukup lama perdebatan itu. Dengan segenap kesabaran akupun mengikuti alur perdebatan itu, tapi tetap saja aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Lambat laun aku pun kelelahan sendiri, mataku juga terasa perih, maka kuputuskan untuk kembali ke kamarku. Baru selangkah kakiku meninggalkan tempat di mana tadi aku mendengarkan pembicaraan mereka, ku dengar isakan tangis, karenanya kuhentikan langkahku sesaat. Ya tuhan,, Aku takut!, apa yang terjadi?,

“Paakkk”,

ya Tuhan itu tamparan. Jantungku berdegup kencang. “duh,, aku harus gimn?”, sepertinya isakan itu semakin terdengar jelas olehku. Aku sangat sedih, tanpa kusadari akupun terisak, aku tidak bisa menahan kesedihanku, aku menangis. Ya, menagis. “Ya tuhan aku tidak bisa melakukana apa-apa untuk menghentikan mereka, padahal tinggal selangkah lagi aku bisa mengedor kamar mereka”, aku berteriak walau dalam hati. Bagiku inilah malam teberat yang pernah ku alami, perasaanku tak karuan. Tiada hal yang bisa ku lakukan. Aku hanya bisa terdiam menagisi keadaan.

“AAaaaaa….”

Tiba-tiba, ku dengar teriakan yang kuat dan lambat laun menghilang. Itu suara ibu. Pikiranku semakin kacau, degup jantungku semakin kencang, aku ketakutan!. . Oh…, apa yang terjadi?”. Sepertinya sekarang aku sudah berada di puncak penasaran. Tanpa berpikir panjang, langsung saja kuhampiri kamar itu dan kubuka pintunya. Untungnya kamar itu tidak terkunci, sehingga memudahkanku untuk masuk tanpa harus menggedornya terlebih dahulu.
“ bruk..”.. kehempaskan pintu itu.

Tak ku kira apa yang terjadi. Sesaat kurasakan jantugku tiada lagi berdetak, kurasakan darahku mengalir tanpa tentu arah. Kepalaku yang semakin berat, tenggorokanku yang tercekal. Aku serasa raga tanpa jiwa, mati!. Tubuhku lemas menyaksikan keadaan di sekitarku.
Dengan napas terengah-engah, aku masih bisa mempetahankan tubuhku berdiri. Kemudian ku tatap ayah dengan penuh tanda tanya. Seketika itu juga ayah pergi meninggalkanku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kakiku terasa terpaku, aku tidak sanggup menghampirinya, yang bisa kulakukan hanya menangis meratapinya. Ibu… ibuku sayang…

***

Setahun sudah peristiwa itu berlalu, tapi tidak juga kutemukan jawaban atas apa yang terjadi pada waktu itu. Kini, aku tinggal bersama pamanku, kaka sulung ibuku. Aku tidak mau tinggal di rumah yang dulu karena kejadian itu terus-menerus mengahantuiku. Selalu terbayang-bayang olehku setiap peristiwa yang penah ku lakukakn bersama ayah dan ibu, kebahagiaan, keceriaan, hingga peristiwa malam itu yang hampir membuatku depresi. Untungnya Setelah peristiwa itu, paman bersedia membawaku untuk tinggal bersama keluarganya. Walaupun sebenarnya aku tidak pernah mengenalnya sebagai keluargaku.

Di rumah paman, keadaanku sangat berubah. Tiada kutemukan kehidupan yang aku idam-idamkan, keluarga dan kasih sayang. Begitulah, tidak kudpatkan hal itu. Aku tidak diperlakukan sebagaimana layaknya seorang anak atau keluarganya. Aku tidak tahu kalau akhirnya jadi seperti ini, jika dari awal aku tahu dan bisa memprediksi bagaimana tabiat keluarga paman, takkan kuinjakkan kakiku di rumah ini. Aku mau ikut dengan paman semata-mata karena aku ingin mendapatkan kasih sayiang yang tiada pernah akan kudapatkan lagi dari ayah dan ibu. Sayangnya harapanku itu tak terjadi. Aku diperlakukan seperti pembantu , setiap hari aku harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Setiap pagi aku harus bangun lebih awal dan tidur lebih akhir dari orang-orang yang ada di rumah itu. Hampir tiap hari aku kena omelan-omelan pedas dari bibiku, anak malaslah, tidak tau dirilah, dan masih banyak lagi kata-kata yang benar-benar menyakitiku.

Terpikir olehku untuk kabur dari rumah yang bagai penjara bagiku. Aku bisa pulang ke kampung ke tempat nenek dan kakek. Mereka tidak tahu keadaanku di sini, mereka pikir aku baik-baik saja, maka dari itu mereka tidak memintaku tinggal bersama mereka. Ku putuskan esok hari, aku harus berangkat ke rumah nenek dan kakek.

***

Pukul 11.30 malam, baru saja kuselesaikan seluruh tugas-tugasku. Huh…, sungguh melelahkan. Kubaringkan tubuhku di tempat tidurku. Lambat laun mataku pun terpejam.
“Tok…tok…tok…”, ketukan pintu yang pelan itu membangunkanku. Kubuka pintu,
“Paman? Ada apa?”, tegasku.
“Ada yang harus kau ketahui tentang keluargamu”, jawab paman. .
“Besok saja paman, ini kan sudah malam”, dengan kewaspadaan ku berkata. Namun, paman tetap memaksakan diri masuk ke kamarku. Tanpa berpikir lagi kututup pintu kamarku. Tapi ternyata tenaga paman melebihi tenagaku, paman berhasil membuka pintu itu dan masuk ke kamarku.

“A…………!!!”,
aku berteriak sekuat tenaga ketika paman berhasil memojokkan tubuhku ke dinding. Kurasa teriakanku cukup kuat untuk membangunkan orang-orang yang ada di dalam rumah ini. Namun, paman tidak menghiraukannya. Ia menutup mulutku dan tetap memojokkanku. Pikiranku kacau, napasku sesak, rasanya aku berada di ruang tanpa oksigen, “ya Tuhan.. tolonglah aku“. Hatiku selalu berdoa meminta pertolongan Tuhan. Otakku berusaha mencari-cari apa yang mesti aku lakukan. Paman semakin garang, sesaat aku teringat akan sesuatu, ya, gunting itu!. Ku buka laci meja yang berada tepat di sebelah tangan kananku. Lalu, langsung saja kutikamkan benda itu tepat di perutnya. Lambat laun cengkraman itu melemah. Sedikit kurasakan oksigen menghampiriku, sesaat kurasakan syaraf-syaraf di otakku kembali menjadi satu. Kemudian aku tersadar, “Astaga, apa yang telah aku lakukan” aku bingung sendri, perasaanku menjadi tak terdefinisi. Di satu sisi aku merasa ketakutan. Di sisi lain, aku merasa sangat bahagia, tertawa. Aku menang….!

***

Aku berjalan di lorong yang gelap, ditemani oleh dua orang wanita kekar yang cukup menyeramkan bagiku. Ku lihat di kanan dan kiriku beraneka ragam fenomena, “mengerikan” pikirku. Krek…., pintu terbuka. “Masuk!”, kata petugas itu sambil mendorongku dengan kasar. Kupandangi ruangan itu. Gelap, pengap, penuh debu, kotor. Hanya ada sebuah tikar usang di sana. Inilah tempat tinggalku menjelang hari itu, hari di mana aku harus memasuki kehidupan lain setelah apa yang ku lakukan terhadap pamanku. Keluarganya menuntutku atas peristiwa itu. Aku dijatuhi hukuman mati, ya mati. Aku tak diberi kesempatan untuk membela diri. Walaupun terkadang terasa tidak adil bagiku, aku cukup senang karena semuanya akan segera berakhir. Lebih baik mati di penjara daripada harus menderita seumur hidup tinggal di keluarga itu. Tiada hal lain yang bisa aku lakukan selain memohon ampun atas segala dosa-dosaku kepada-Nya.

***

Hey…!, teriakan keras itu membangunkanku dari lamunan panjang. Pintu di buka, aku di tuntun melewati lorong gelap, sama seperti pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini. Aku tersenyum. Ya… waktuku tiba!.


----------------------------
Aku seperti melayang di udara…
Mengepakan sayap, terbang ke langit tanpa batas,,
Mencari jawaban atas pertanyaaku selama ini,,
Semoga kutamukan ia di sana,,,

Rabu, Oktober 15, 2008

blum ada IDE,,,,

sudah lama ruang itu kosong,,
detik demi detik berlalu tanpa ada yang mengisinya,,
ia menati tanpa kata menyerah untuk menunggu,,
walaupun menunggu suatu yang tak pasti,,,
tapi ia tetap yakin bahwa akan datang seseorang yang akan mengisi ruang kosongnya
suatu saat nanti,,,

>>> BlogsqQu,, sabar ya
ruang kosongmu blum sempat Qu isi,,
karena Aqu.....

BLUM ADA IDE


Selasa, Agustus 19, 2008

Latihan Mengemudi



Hari pertama,

Hari ini adalah hari pertama aku latihan mengemudi menggunakan kendaraan sendiri. Setelah aku selesai menuntaskan pembelajaranku di belajar mengemudi YAGI selama delapan kalee, tibalah saatnya bagiku mencoba mengendarai kendaraan yang ada di rumah.
Wah,, aneh rasanya berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Tempat yang ada di rumahku tidak begitu baik untuk berlatih bagi orang yang amatir. Selain tempat yang sempit ditambah lagi dengan permukaan jalan yang tidak rata. Ku rasa orang yang udah lihaipun akan kesusahan jika “nge-track” di sini. Apalagi aku yang baru aja nyentuh yang namanya kendaraan beroda empat. Bisa ga ya?...
Karena hari ini bener2 permulaan, jadinya hal yang kulakukan dengan BLUEBIRD –nama yang kuberikan bt kendarannku – hanya jalan di tempat doank. Maksudnya aku hanya bisa maju-mundur berkali2. sampai bosen deh pokoke….capek juga ternyata maju-mundur mulu,, tapi yah buat tahap awal ga pa2 deh…
Sebut saja hari pertama ini hari maju-mundur =)

Hari kedua,

Hari ini sama aja spt hari kemaren, maju- mundur2 juga. Tapi, dah mulai meningkat dikit deh,, udah pke2 acara banting strir truz mundur sampe ke ujung lorong dekat jalan,, ya “track”nya dah cukup panjang. Yang sangat disayangkan aku belum dibolehkan sampe ke jalan, kerena itu ya udah maju lagi. Begitulah seterusnya sampe capek, huh…

Hari ketiga,

Hhmm… hari ini dah mulai seru. Aku dah jalan2 muterin “kompleks”. Namun, sesuatu terjadi. Pas bgt di jalan belokan mo balik ke rumah (bukan jalan yang waktu pergi), ternyata ada orang mo nikahan, so… jalan ditutup, padahal aku dah masuk ke gapura. Duh aku bingung bgt, gmn caranya balik lagi, mana jalan sempit, ga bisa muter. Akhirnya ku banting stir ke kanan masuk ke perkarangan rumah orang, biz gt aku mundur.. Bruk,,!! tiba2 mobil terhenti dan ternyata ku masuk ke got,, . jantungku berdegup kencang, “gimana neh?” aku bener2 panik. Aku ga nyangka bakal menghadapi situasi kaya gini, mana ini adalah pertama kali aku keluar ke jalan.. Untungnya ada orang yang nolongin aku muterin mobil. Huh,,, cukup lega. Yah karena mesti balik lagi akhirnya kuputuskan ngambil rute lain yang tentunya ga jauh2 dari rumah.. takut masuk got lagi….=)

Hari keempat

Hari keempat ini perjalanan udah mulai lancar, rutenyapu dah cukup panjang. Tapi jalannya kendaraan lambat bgt, kaya BEKI, Bekicot maksudnya, hehe. Yah,, Karena memang lum berani lebih cepat lagi. Berjalan di sebelah kiri jalan dengan kecepatan paling cepat 10 km/jam. Dan yang paling ga enaknya, di setiap persimpangan, selalu saja di-klakson-in ama kendaraan yang ada di belakang. Huh.. membuat aku makin tambah gugup. Terpaksa deh, mau ga mau dengan gemeteran aku harus tetap melanjutkan perjalanan, klo ga, ya ga pulang.

Hari kelima

Nah, klo yang ini udah lebih baik dari hari kemaren2. Aku dah sedikit lebih enjoy, walaupun masih sering di-klakson-in ama kendaraan yang ada di belakangku. Kecepatanpun udah mulai bertambah, jadi kurang lebih 20 km/jam. Dengan rute yang masih sama, namun dengan perasaan yang berbeda, ku kendarai BLUEBIRDku dengan dua kali putaran biz gt nyampe rumah deh…
Hanya saja, menguasai si BLUEBIRD ketika hendak masuk ke gang di rumah cukup sulit, dengan jalan yang sempit berbatu dan tidak rata. Memang harus perlu banyak2 laihan…

Hari keenam

Sepertinya hari keenam ini sudah jauh lebih baik lagi. Keluar garasi pun aku tidak begitu mangalami kesulitan seperti yang sudah2. Cukup satu kali banting stir ke kiri, truz maju dikit, biz gt mundur deh sampe ke ujung gang deket jalan, trus banting stir kiri, ya udah jalan deh, kemana mau jalan…
Karena bosen ama rute yang udah2, aku putuskan untuk menjajaki rute baru dan lebih jauh lagi. Ku habiskan waktu kurang lebih selama satu jam menjajaki rute itu dengan dua kali putaran. Kecepatan pun udah makin bertambah, udah nyampe 30-40km/jam. Wah.. bener2 beda rasanya ama yang kemaren2, udah lebih lancar, deg2annya berkurang, pokoke asyik deh,,,

Hari 7..

Hari ini juga ga kalah pentingnya. sangking asyiknya berjalan2 bersama BLUEBIRD, hampir2 aja aku nabrak orang. Duh,, bener2 ga terlupakan. Untung aja aku cepet2 ngerem, walaupun mendadak. Sedetik aja aku tunda untuk nginjek rem, tau dah apa yang terjadi. Ga kebanyang klo orang bakal luka gara2 aku, apalagi klo sampe nyawanya melayang,,,
A’udzubillah….

-----------------------------


Pokoke banyak hal baru yang aku dapat. Klo dicatat tiap hari perkembangannya, wah… ga abiz2 kalee yah,, . Kayanya cukup sekian deh,,. Moga hari ketujuh ini, menjadi awal dari keberhasilanku menguasai si BLUEBIRDku. So… klo mo jalan2 tinggal contact aja, hehe….

Moment yang Hilang di Agustus 2008 (part 2)


REUNI AKBAR,,,

Oh, pondokku… tempat naung kita
Dari kecil sehingga dewasa
Rasa batin damai dan sentosa
Dilindungi Allah ta’ala
Oh, pondokku engkau berjasa
Pada ibuku Indonesia

Tiap pagi dan petang…
Kita beramai sembahyang…
Mengabdi pada Allah ta’ala
Di dalam kalbu kita

Wahai pondok tempatku
Laksana ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh, pondoku..
Ibuku…

Sebuah nyanyian yang selalu terngiang-ngiang di telingku saat ini. Ya, hari ini, tepatnya tanggal 16 agustus 2008, harusnya aku sudah berada di sebuah tempat yang terletak di daerah Pincuran Tinggi X Koto, Tanah Datar, Sumatera Barat, yaitu pondokku tercinta, Pondok Pesantren Modern Nurul Ikhlas, tempat aku bersekolah dahulu. Walaupun tiga tahun aku “berdiam” disana, tapi segala hal yang pernah kulalui menjadi kenangan yang takkan terlupakan yang akan selalu ada dalam benakku.

Hari ini adalah hari yang ditunggu2 oleh segenap orang yang telah menamatkan pendidikannya di pondok pesantren tercinta ini karena hari inilah diadakanya REUNI AKBAR yang telah dirancang sejak jauh2 hari. Namun, aku sangat menyayangkan diriku yang ga bisa turut menghadiri acara tersebut. Sedih bgt rasanya, padahal aku dah ngebayangin betapa bahagianya bertemu dengan guru2 di sana (para ustadz dan ustadzah, biasa ku memanggil guru2ku), ka2 alumni, mulai dari angkatan pertama sampai angkatan di atasku, dan tentunya teman2 yang udah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, bagaimana tidak?, selama tiga tahun kami bersama, satu atap, satu makan, senasib- sepenanggungan, sehidup-semati ( sdikit berlebihan deh…).

Masih ku ingat kata-kata salah seorang ustadz ku dulu. Ketika itu aku masih kelas tiga SLTP, semester dua, tahun 2003. “lima tahun lagi, ustadz berencana mo mengadakan reuni akbar”, seperti itulah kurang lebihnya apa yang telah dikatakan ustadz ku tadi. “Lima tahun kagi? Bukanlah waktu yang sebentar? Bilakah waktu itu ?”, pikirku saat itu. Tak terbayang olehku bagaimana jadinya nanti. Masih adakah waktuku untuk menghadirinya? Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pertanyaan besar pada diriku, yang jawabannya akan di dapat setelah lima tahun yang akan datang terhitung dari aku duduk di bangku kelas tiga SLTP.

Kemudian aku tersadar. Inilah waktunya, jawaban yang ku tunggu2 selama lima tahun telah ku dapat. Kini, saat ini, aku masih bisa bernapas menghirup udara Allah dengan gratis, suatu nikmat kehidupan yang tak terhingga. Inilah aku sekarang, jawaban yang sudah lama kunantikan dari lima tahun yang lalu. Saat ini aku masih berkecimpung dalam dunia pendidikan tepatnya aku masih duduk di bangku perkulaian semester lima. Tidak terasa lima tahun dari waktu yang lalu adalah saat ini.

Dengan kondisi yang sehat walafiat, aku akan dapat bersua lagi dengan teman2 lamaku. Harapanku sungguh besar, apalagi setelah seminggu sebelum acara reuni tsb, temanku menghubungiku menginformasikan kepastian waktu pelaksanaannya sekaligus memintaku untuk hadir dalam acara itu. Harapanku semakin bertambah setelah orang tua ku mengizinkaknku untuk pergi ke tempat itu dengan syarat harus ada teman, maklumlah pondokku aga sedikit jauh dari rumah, sekitar 12 jam-an menggunakan bis. Kebetulan aku mempunyai dua orang teman yang berasal dari daerah yang sama denganku, aku akan ajak mereka, ku rasa mereka mau, karena itu sangat senang sekali dan optimis bisa menghadiri acra itu.

Namun, lagi2 apa yang kita inginkan belum tentu akan jadi kenyataan. Setelah aku dapat izin dari orang tua, tapi aku tidak mendapatkan teman yang akan menemaniku ke sana karena dua orang temanku tadi mmpunyai urusan yang harus segera diselesaikan. Yah,, intinya ada urusan yang lebih pentinglah dari menghadiri acara reunia. Tampaknya, harapan2ku, mimpi2 ku untuk bertemu kembali dengan pondokku, teman2ku, seta guru2ku yang di sana belum terwujud. Sedih sekali rasanya… dan aku berharap semoga suatu saat nanti, harapan2 dan mimpi2ku menjadi kenyataan.
Amin….

Sabtu, Agustus 09, 2008

Aku ingin...

Aq ingin bisa menulis,
layaknya hujan yang meneteskan airnya di pasir…

Aq ingin pandai menulis,
layaknya matahari yang menggoreskan sinarnya di tengah-tengah kehidupan…

Aq ingin berhasil menulis,
layaknya seekor burung yang berhasil mengepakkan sayapnya menjelajahi langit…

Tapi kenapa setiap aq menulis,,, hanya tulisan kosong yang tercipta?

Jambi, 06 agustus 2008
08:19 PM

MOmenT yang hilang di Agustus 2008


JADI PANITIA PROPESA

Ujian akhir semester akhirnya selesai juga, ga terasa semester IV ini dah dilalui dengan begitu banyak kesibukan, spt tugas, ujian, rapat2 organisasi, de el el deh… dan bentar lagi dah mau masuk semester V, bener2 ga berasa dah dua tahun menempuh hidup di dunia perkuliahan, emang waktu serasa belalu begitu saja di hadapan mata. Nah, sekarang saatnya menikmati masa2 liburan, melepas simptom2 “gangguan jiwa” yang menyertai kehidupan selama semester IV.

Awalnya, di liburan kali ini, aku berniat ga pulang ke rumah, niatnya tergantikan oleh kegiatan kursus bahasa inggris di Pare, Jawa timur (jauh ya..) yang notabenenya klo mau cepat pinter berbahasa inggris dengan baik dan benar + lancer, ya ke sana. Tapi, dikarenakan banyak hal yang tidak memungkinkan, ya ga jadi deh,,. Akhirnya, tanpa berpikir panjang lagi kuputuskan untuk pulang ke rumah. Rumahku cukup jauh dari tempat aku menuntut ilmu sekarang, tepatnya berada di provinsi Jambi, di pulau Sumatera sana. Sedang kampusku saat ini berada di pulau Jawa tepatnya di daerah “Ciputat City”, Jakarta pinggiran katanya, hehe…

Liburan kenaikan tingkat ini cukup lama, mulai dari selesai UAS, sekitar akhir Juni sampai awal September, lama bgt bukan??. Nah, klo ga ada kegiatan di rumah, tentunya liburan akan terasa sangat membosankan. Apalagi di rumah nanti aku ga punya teman, teman2 masa kecilku dulu ntah ada di mana sekarang, ga pernah berjumpa lagi, kalaupun ada, mereka sudah pada sibuk dengan dunianya masing2, ada yang kerja juga ada yang udah berumah tangga. Karena itu, aku berencana membuat suatu kegiatan liburan di rumah bersama dengan teman2 kuliahku, kebetulan dua orang temanku itu berasal dari jambi juga, satu SMA denganku dulu. Dan yang membuatku lebih senang lagi, tiga orang temanku dari negeri Jawa ini mau ikutan ke Jambi guna berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang ingin aku adakan nanti, yah sekalian belajar dan menerapkan ilmu yang dah di dapat. di Fakultas Psikologi UIN jkt, yang telah berlangsung kurang lebih selama dua tahun.

Selain kegiatan tadi, rencananya bt ngisi liburan ini aku ingin jadi panitai PROPESA, so aku ga perlu lama2 di rumah coz propesa akan di adakan pada bln agustus ini. Karena aku pulang ke rumahnya pada awal Juli, cukuplah keberadaanku melepas rindu dengan keluarga satu bulan di rumah. O ya ada yang lupa, aku rasa sedikit perlu menjelaskan apa itu propesa. PROPESA itu, program pengenalan mahasiswa (bener ga yah, hehe), yah semacam ospek gt lah buat mahasiswa baru. Setelah sekian lama di Fakultas Psikologi dan ku rasa sudah sekian banyak pula pengalaman yang udah aku rasain, nah,, tinggal yang satu ini yang blum aku rasain, yah jadi panitia propesa.
Dan ternyata takdir berkata lain. Apa yang kita inginkan belum tentu akan kita dapatkan. Ya itulah manusia hanya bisa merencanakan namun Tuhan juga lah yang menentukan. Keinginanku untuk menjadi salah satu orang yang akan terlibat dalam kepanitiaan yang me-manage kegiatan untuk mahasiswa baru sepertinya belum bisa terealisasikan. Banyak hal yang mungkin membuatku gagal menjadi panitia PROPESA tahun ini. Sepertinya tahun ini memang cukup sulit untuk menjadi panitia. Temanku Iqbal, ia adalah salah satu anggota BEM bagian kemahasiswaan yang otomatis bakal jadi panitia, juga mengatakan klo sekarang prosedurnya ribet. Pertama, yang mau jadi panitia harus daftar dulu ke email president BEM lengkap dengan CV beserta foto terbaru. Kedua bagi yang berminat jadi panitia harus mengikuti proses wawancara, dan yang terakhir harus mengikuti rapat perdana. Masalahnya di sini, awalnya aku ga tau klo daftar mesti pke2 CV dan foto terbaru, pas aku tau ternyata pendaftarannya dah telat, mestinya dua hari yang lalu klo mang mau daftar. Selain itu karena aku masih di Jambi, So…, otomatis ga bisa ikut wawancara –dah dua syarat ne yang ga ku lalui untuk masuk dalam datar kepanitiaan –ya mana bisalah…

“Ntar deh mut, gw usahain lagi mana tau bisa”, jelas iqbal kepadaku. Karena ia salah satu temanku yang ada di kalangan BEM jadinya aku minta semua informasi mengenai PROPESA ke dia dan karena ia tau keberadaanku yang masih di jambi, ia akan mengusahakan apakah aku bisa jadi panitia atau tidak walaupun aku ga daftar lengkap dengan CV n foto, ga wawancara, dan ga rapat perdana.
“ Ntar gw hub ka Arif (selaku ketua panitia)” lanjutnya.
“ Ga usah deh, klo memang prosedurnya ribet dan ga bisa, aq ga pa2 koq”, jawabku.
“ Insya Allah gw usahain, ya ntar klo da pa2 gw sms lagi”, Iqbal mengakhiri sms nya.
Walaupun iqbal dah bilang bakal diusahain tapi aku yakin ga kan mungkin bisa, sedangkan salah satu temanku aja yang dah ngikutin prosedur, ga “lulus sensor” jadi panitia. Apalagi aku yang ga mengikuti satupun proses seleksi. Ya udalah ngapain juga memaksakan sesuatu yang 98% ga mungkin. Dan sepertinya setelah sms terkhir itu, iqbal ga da memberiku kabar lagi mengenai kepanitiaan. So… ga jadi deh jadi panitia propesa….. .tetapi aku tetap bersyukur karena rencanaku yang satunya lagi berjalan dengan lancar, dan pastinya ada hikmah di balik semua ini.

09 Agustus 2008

Rabu, Agustus 06, 2008

....

sesekali mamapangin tugas di blogs,, its oce =)

Sabtu, Agustus 02, 2008

Judul Novel : Mereka Bilang Aku Gila
Pengarang : Ken Steele dan Claire Berman
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : 2005
Ukuran : 11,4 X 17,1 cm
Tebal : 436 halaman



SINOPSIS
Keen Steele, seorang pemuda yang telah menghabiskan masa usia mudanya dengan tidak begitu bermakana karena penyakit yang dideritanya. Dokter keluarganya mengatakan bahwa ia menderita suatu penyakit, yaitu skizofrenia yang biasa disebut orang awam sebagai penyakit kegilaan.
Awal mula penyakitnya, Steele seperti mendengar suara-suara aneh yang berbicara kepadanya. Ia mendengar orang lain berbicara kepadanya melalu radio atau televisi, tetapi bukan suara pembawa acara atau penyiar yang ada di televisi atau radio tersebut. Ia mendengar suara-suara itu di luar pembicaraan penyiar. Steele mengira kalau ia hanya bermimpi buruk pada saat itu. Namun, lama-kelamaan suara itu nyata baginya. Tanda-tanda penyakit ini sudah mulai terlihat pada dirinya ketika dia berusia 14 tahun.
Hari demi hari suara itu semakin menguasai dirinya, tetapi ia tidak berani untuk mengatakan apa yang menimpa dirinya kepada kedua orang tuanya. Suara-suara itu selalu menyerukan agar Steele mengakhiri hidupanya. Perilaku Steele sudah mulai terlihat aneh. Pertama-tama dengan mengasingkan diri, baik dari teman-temannya atau pun keluarganya sendiri. Dia lebih suka mengurung diri di kamar dari pada harus ke luar kamar untuk berkumpul dengan keluarganya apalagi harus ke luar rumah. Hal ini dilakukannya karena ia tidak lagi merasa aman dan nyaman bila berada di tangah-tengah komunitas.
Di suatu malam, Steele kehilangan kendali, ia tidak mampu menghindari suara- suara yang menyuruhnya untuk bunuh diri hingga ia pun melarikan diri dari rumah dan melakukan tindakan-tindakan yang hampir saja merenggut nyawanya, tetapi usahanya itu gagal. Melihat kelakuan Steele yang semakin aneh, orang tuanya membawanya ke dokter keluarga, dr. Sullivan. Setelah diperiksa Steele difonis menderita penyakit mental yang sanga serius, SKIZOFRENIA, penyakit yang dapat diatasi jika dirawat melalui pengabatan dan psikoterapi, disertai dengan dukungan teman dan keluarga.
Pada tahun-tahun pertama penyakitnya itu Steele masih mampu dengan mudah membedakan dunia nyata dengan dunia khayalnya. Namun, lama-kelamaan seiring dengan berjalannya waktu, Steele semakin mengalami kesulitan untuk membedakannya. Ia semakin larut dalam halusinasinya. Hubungan dengan keluarganya pun semakin memburuk. Ia sangat jarang melakukan interaksi dengan anggota keluarganya. Kini Steele tidak lagi bersekolah karena ia tidak lagi mempunyai keberanian untuk keluar rumah. Dalam pikirannya, ada banyak orang yang akan menyakitinya di luar sana. Hanya membaca dan menulislah yang tetap menjadi aktivitas satu-satunya bagi Steele untuk dedikit meredam suara-suara itu.
Usia Steele telah memasuki usia dewasa, tepatnya 17 tahun, usia yang suadah saatnya untuk mandiri dan mencari nafkah sendiri untuk kelangsungan hidupnya. Akhirnya, Steele memutuskan untuk berangkat ke New York guna mencari pekerjaan. Di sana Steele dapat bekerja sebagai asisten redaksi di majalah Men’s wear. Walaupun ia sudah dapat bekerja, suara-suara itu tidak hilang begitu saja, malah semakin menghantuinya. Oleh sebab itu, ia sering melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Akibatnya Steele diberhentikan dari pekerjaannya itu. Peristiwa ini sangat membuatnya terpukul, sedangkan suara-suara itu semakin mendesaknya untuk melakukan bunuh diri.
Ken Steele semakin tidak menguasai dirinya hingga suatu hari ia mencoba melakukan usaha bunuh diri dengan berdiri di tepi lantai teratas gedung yang tinngi. Usahanya itu gagal setelah kawanan polosi menangkapnya dan membawanya ke Manhanttan State Hospital di Ward Island yang merupakan sebuah rumah sakit jiwa di daerah itu. Sejak saat itu, kehidupannya hanya berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Kehidupan di rumah sakit tidak selalu menguntungkan, malahan terkadang ia diperlakukan secara tidak manusiawi oleh para penjaga di rumah sakit tersebut. Karena itu, Steele lebih memilih melarikan diri dari rumah sakit dan berkelana di jalanan walaupun tanpa tau arah tujuan. Keluarganya tidak lagi memperdulikannya dan ia pun juga tidak mau memberitahukan keadaannya kepada orang tuanya karena ia tidak mau mengganggu kehidupan keluarganya yang dianggapnya bahagia tanpa kehadirannya.
Namun, keinginan yang kuat dari Steele untuk sembuh dan mendapatkan perawatan yang lebih efektif, menghantarkan dirinya untuk mendaftar sebagai pasien rawat jalan di Roosevelt Hospital dengan dokter yang tanpa menanyakan lagi sejarah kehidupan Steele mengenai obat-obat apa saja yang telah diberikan kepadanya dan bagaimana efeknya terhadap Steele sendiri. Karena tidak suka dengan cara dokter itu memperlakukannya Steele pun tidak pernah menebus resep yang diberikan kepadanya.
Ken Steele mencari bantuan ke tempat lain, PARK SLOPE CENTER FOR MENTAL HEALTH. Di tempat inilah ia mulai menemukan harapan barunya untuk keluar dari kemelut skizofrenia. Dr. Seiden, dokter yang sangan tertarik akan kasus penyakit yang dideritanya. Dokter ini sangat memperhatikan Steele, selalu memberikan obat ynag sesuai untuk menghilangkan halusinasinya, tentunya tanpa memberikan efek yang buruk terhadap kesehatannya. Hal ini sangat membantu proses penyembuhan skizofrenia ditambah lagi dengan lingkungan yang kondusif dan kehadiran orang-orang yang mendukungnya untuk sembuh.
Setelah begitu lama mengembara dalam dunia khayal hasil rekayasanya sendiri. Akhirnya, dengan perjuangan yang begitu berat, Keen Steele mampu keluar dari kemelut dunia skizofrenia. Sejak itu ia sering menjadi pengisi acara dalam bincang-bincang di televisi atau di radio, menceritakan pengalamannya agar tidak ada lagi pihak yang menjadi korban penyakit ini. Hanya inilah yang dapat dilakukannya menjelang akhir kehidupannya.



PEMBAHASAN
“ gila “, tentunya kata yang tidak asing lagi didengar. Tetapi, mengapa saat kita mendengar kata ini, pikiran kita langsung saja menjurus kepada hal-hal yang mengerikan, menjijikkan, kotor, menakutkan, berhubungan dengan kekerasan ,dsb. Padahal jika ditelusuri secara mendalam, ternyata persepsi yang tertanam di benak kita itu tidaklah sepenuhnya benar.
Mereka bilang aku gila, sebuah novel yang menceritakan diorama kehidupan seoarang skizofrenia yang sangat menyentuh dan mengharukan. Keen Steele, seorang pemuda yang didiagnosis dokter menderita penyakit mental akurat. Sejak itu, kehidupan yang sebenarnya tidak mampu menghampirinya. Selama 32 tahun pemuda ini terperangkap dalam dunia khayalnya sendiri. Skizofrenia, sepertinya kata yang kurang bersahabat di telinga kita. Orang awam biasa mengenal istilah ini denagn penyakit kegilaan. Skizofrenia termasuk dalam salah satu gangguan mental yang disebut psikosis. Psikosis itu sendiri adalah suatu penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses pikiran, gangguan dalam emosional, disorientasi waktu, ruang dan person, halusinasi, dan ilusi disertai menurunnya minat dan dorongan.
Pada awalnya Ken Steele sering mendengar suara-suara yang mendorongnya untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu, khususnya bunuh diri. Ia selalu merasa bahwa suara-suara itu nyata, bahakan tanpa disadari terkadang ia pun mau memenuhi permintaan-permintaan suara-suara itu yang pada dasarnya adalah suara ciptaaannya sendiri.
Dari kisah tersebut dapat dilihat bahwa penderita penyakit ini sering berhalusinasi. Ia sangat mudah larut dalam halusinasinya sendiri. Halusinasi adalah persepsi sensorik yang salah di mana tidak ada stimulus sensorik yang berkaitan dengannya. Jadi penderita ini menganggap nyata hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
Hoeksama (2004) mengemukakan adanya bermacam-macam halusinasi:
1. Halusinasi pendengaran, di mana orang mendengar suara-suara, musik, dan lain-lain yang sebenarnya tidak ada. Orang dengan gangguan ini mungkin bicara balik membalas suara tersebut.
2. Halusinasi penglihatan, seringkali berbarengan dengan halusinasi pendengaran
3. Halusinasi perabaan, melibatkan perdepsi bahwa sesuatu sedang terjadi di luar tubuh seseorang
4. Halusinasi somatis, melibatkan persepsi bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam diri seseorang.
[1]
Penderita ini juga mengalami delusi (waham) yaitu suatu keyakinan yang salah terhadap apa yang terjadi. Misalnya, Ken Steele tidak mau keluar rumah, sampai-sampai ia tidak mau lagi pergi ke sekolah. Hal ini dilakukannya karena ia sangat yakin bahwa di luar sana akan ada banyak orang yang menunggu untuk menyakitinya. Perasaan seperti ini sangat menghantuinya. Ia selalu was-was terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya. Rasa was-was itu pada dasarnya merupakan bisikan-bisikan halus dari syaitan. Mengikuti was-was sama artinya dengan melanggar fitrah asli manusia , sebab was-was berorientasi pada fitrah syaitan sehinnga terkadang untuk menghindari rasa was-was itu kita dapat melakukan sesuatu yang malah melanggar peraturan. Apabila rasa was-was ini telah menguasai jiwa manusia, maka ia akan sulit berpikir jernih dan tanpa disadari ia akan mengikuti bisikan-bisikan tersebut yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam alquran:
. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120).
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
(Thaha: 121)
Dari firman Allah swt di atas jelaslah bahwa syaitan telah berhasil membujuk Adam dan Hawa dengan bisikan-bisikan jahatnya.
Rasulullah pun bersabda:
Kadang-kadang Syaitan itu akan selalu datang kepada seseoarang di antara kalian, lalu ia menyatakan: “siapa yang telah menciptakan ini dan menciptakan itu, hingga ia berkata pula siapa yang menciptakan Tuhanmu?”. Apabila telah sampai kepada hal itu, maka hendaklah ia memohon perlindungan Allah dan usirlah bisikan itu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah R.A)
Tidak sepantasnyalah seorang manusia menyerahkan dirinya pada pikiran was-was da menjadi korbannya. Hendaklah ia bersandar pada iman yang aka menyelamatkannya dari kesesatan, sebagaimana Allah telah menunjukkan kepada manusia melalui firman-Nya dalam Alquran:
Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra:82)
Selain yang telah disebutkan, penderita juga menunjukkan gejala seperti distorsi emosi, yaitu kacaunya emosi seseorang termasuk kesulitan dan tidak mampu menikmati, bersikap masa bodoh. Seperti yang terjadi pada Ken Steele, pada suatu malam ia diajak ayahnya bicara, tetapi tidak sedikitpun ia menanggapi apa yang dikatakan ayahnya. Ia menunjukan sikap yang sangat cuek dan apatis. Karena hal itu ayahnya marah dam menyuruhnya kembali ke kamar. Padahal sebagai seorang anak, hendaknyalah mendengarkan dengan saksama dan menanggapi apa yang dikatakan orang tua ketika berbicara kepada kita. Dengan kata lain, jika kita tidak mengacuhkan apa yang mereka katakan, sama saja halnya dengan melawan keduanya. Sedangkan Allah swt telah memperingatkan kepada manusia untuk berbuat baik, menghormati, dan berbakti kepada orang tua..
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra:23)
Rasulullah juga telah menyerukan kepada umat islam untuk berbakti kepada kedua orang tuanya:
Berbaktilah kepada dua ibu-bapakmu, pasti nanti anak-anakmu akan berbuat baik (berbakti) kepadamu. (HR. Thabrani)
Keridhaan Allah swt (terhadap hamba-Nya) tergantung pada keridhaan ibu-bapaknya, dan kutuk Tuhan itu tergantung juga pada kutuk kedua ibi-bapaknya.
(HR. Turmudzi).
Gangguan emosi itu juga menyebabkan kekacauan perilaku pada penderita. Dikisahkan ketika suara-suara yang menghantui Ken Steele semakin mendesaknya untuk melakuka bunuh diri, saat itu emosi Steele tidak lagi terkendali. Tanpa berpikir panjang, ia melakukan tindakan bunuh diri. Kita tau bahwa bunuh diri merupakan perbuatan tercela, karena pada dasarnya bunuh diri itu menentang takdit Allah swt. Rasulullah bersabda:
Barangsiapa bunuh diri dengan senjata tajam, kelak dia berada di neraka jahanam selama-lamanya dengan memegang senjata tajam tersebut sambil ditusukkan ke perutnya. Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, kelak dia berada di neraka jahanam selama-lamanya dengan merasakan racun tersebut. Barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, kelak dia berada di neraka jahanam selama-lamanya dengan menjatuhkan dirinya. (HR. Muslim).
Bunuh diri menunjukan akumulasi konflik batin yang paling parah
[2] dan mengindikasikan bahwa seseorang mempunyai sikap apatis dan pesimis dalam hidup. Apatis dan pesimis dianggap sebagai gangguan kepribadian karena sikap itu menafikan potensi hakiki manusiawi. Padahal kita dianjurkan untuk selalu bersikap optimis dalam hidup, karena sebagai manusia, kita mempunyai potensi-potensi yang dahsyat untuk mengembangkan diri. Allah swt telah mengatakan bahwa orang yang berputus asa (pesimis) itu termasuk orang-orang kafir dan sesat..
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". )Yusuf:87).
Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat". (Al-Hijr:56)
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, penderita ini mengalami kesulitan dalam membedakan dunia nyata dan dunia khayalnya. Dengan nyata mereka memusatkan hidup mereka pada keyakinan dan persepsi yang mereka buat sendiri, seperti mendengar suara-suara atau melihat seseorang. Namun, pada saat kesadaran mereka kembali ke dunia “nyata”, mereka berusaha untuk memerangi khayalan-khayalan itu. Salah satunya dengan cara mengonsumsi narkotika dan minuman-minuman keras. Telah diketahui bahwa narkotika dan minuman keras itu diharamkan karena dengan mengkonsumsi benda tersebut seseorang dapat kehilangan akal sehatnya (mabuk). Jika seseorang telah kehilangan akal sehatnya , maka akan mudah baginya melakukan ha-hal yang buruk. Mengkonsumsi benda-benda semacam itu bukanlah solusi dalam menghadapi masalah, malahan akan menimbulkan masalah yang baru. Sebagaimana Allah swt telah memberi petunjuk kepada umat manusia mengenai hukum dari narkotika dam minuman keras ini.
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. AL-Maaidah:90)
Sangat jelas Allah swt melarang kita untuk mengkonsumsi barang haram tersebut karena hal itu termasuk perbuatan keji yang berasal dari syaitan. Demikian juga Rasulullah mengharamkan mengkonsumsinya.
Sesuatu yang memabukkan, banyak atau sedikitnya pun haram. (HR. Nasai dan Abu Dawud)
Tiap-tiap sesuatu yang memabukkan itu adalah haram (HR. Muslim).
Skizofrenia nampaknya tidak hanya disebabkan oleh penyebab tunggal, tetapi juga disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya, factor genetic, ketidakseimbangan kimiawi otak, abnormalitas struktur otak, dan abnormalitas dalam lingkungan prenatal dan keluarga.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gen yang diwarisi seseorang, sangat kuat memepengaruhi risiko seseorang mengalami skizofrenia, dalam arti kata semakin dekat hubungan genetik seseorang dengan penderita skizofrenia semakin besar kemungkinannya menderita penyakit ini juga. Untuk membuktikan hal ini telah dilakukan penelitian terhadap dua orang anak. Anak yang pertama, dilahirkan oleh orang tua skizofrenik. Anak kedua dilahirkan oleh orang tua normal, tetapi dibesarkan oleh orang tua skizofrenik. Ternyata setelah dewasa, anak yang pertamalah yang mamiliki gejala skizofrenia. Jadi, jelaslah bahwa factor genetic sangat menentukan perkara ini.
Rasulullah saw telah menyinggung pengaruh adanya factor hereditas ini dalam salah satu hadistnya:
Apabila nutfah (sperma) itu menetap dalam rahim, maka Allah swt menghadirkan antara sperma dan Nabi Adam AS pada setiap nasab (keturunan). (HR. Ibnu Majjah).
Hadist ini menerangkan bahwa beberapa sifat orang tua akan diturunkan kepada anaknya, walaupun terkadang secara fenotipe (lahiriah) sifat itu tidak tampak. Jadi tidak semua sifat yang diturunkan orang tua itu terlihat pada anak. Namun, walaupun tidak terlihat pada dasarnya sifat itu ada pada anak tersebut. Pada kasus anak yang mengalami gejala-gejala skizofrenia ini, dia mewarisi gen tersebut dan sifat iru dapat dilihat secara lahiriah. Hal ini mengindikasikan bahwa skizofrenia dipengaruhi oleh factor hereditas.
Selanjutnya, beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurontransmiter dopamine yang berlebihan di bagian tertentu otak. Neurotransmitter adalah zat kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Nah, jika neurotransmitter itu bekerja secara berlebihan tentu saja terjadi proses-proses yang tidak normal pada otak. Selain ketidakseimbangan kimiawi otak, abnormalitas struktur otak juga mempengaruhi seseorang dapat terkena penyaki ini atau tidak. Pasien skizofrenia kronis cenderung memilki ventrikel otak yang lebih besar. Mereka juga memiliki volume jaringan otak yang lebih sedikit daripada orang normal.
Dalam kasus-kasus di mana terjadi psikopatologi, akar permasalahannya terletak pada adanya kekurangan atau gangguan pada lingkungan psikosis atau hubungan dalam keluarga penderita. Misalnya, keluarga penderita menghadapi suatu stressor yang berat. Skizofrenia dapat ditimbulkan dari begitu berlimpahnya pengalaman negatif pada masa awal anak-anak antara seorang anak dengan pemberi kasih sayang terutama ibu. Terjadinya kegagalan dalam perkembangan kepribadian pada masa ini disebabkan oleh si anak tidak mendapatkan respon yang dibutuhkan, karena itu dia tidak merasakan dirinya utuh. Anak tersebut merasa dirinya tercerai-berai sehingga sang anak akan mengalami penghambatan dalam perkembangan jati dirinya. Hal ini menebabkan anak tersebut merasa terasing dengan dirinya sendiri dan tidak dapat membina kebersamaan dengan orang lain.
Orang tua, terutama ibu, tidak hanya secara genetis tetapi juga secara emosional sangat dekat dengan anak. Ibu adalah sosok pertama yang dikenal oleh sang anak ketika ia hadir ke dunia. Pada saat anak tersebut masih bayi, ia akan selalu melakukan hal-hal tertentu guna menarik perhatian ibunya. Pada saat ini sang anak sangat membutuhkan respon yang positif dari orang tuanya, terutama ibu. Sudah sepantasnyalah seorang ibu memperlakukan anaknya dengan baik, merespon setiap tingkah laku anaknya dengan positif, janganlah sampai seorang ibu bersikap tak acuh terhadap anaknya, apalagi menolak kehadiran sang anak di dunia ini.
Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah RA, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
Seorang yang mendidik anaknya dengan baik, lebih baik daripada bersedekah sebanyak satu sha’. (HR. Syaikhan dan Turmudzi)
Juga diriwayatkan dari Ayyub bin Musa dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
Orang tua yang memberikan suatu hadiah kepada anaknya tidaklah lebih baik daripada mengasuhnya dengan baik. (HR. Tirmidzi).
Sebagai orang tua, orang yang pertama dekat dengan anak, hendaklah menyayangi anak dengan sepenuh hati, memperhatikan perkembangannya, apalagi jika sang anak memang sudah menderita skizofrenia karena penderita penyakit ini sangat membutuhkan dukungan moral. Tidak seperti yang terjadi pada Ken Steele, setelah diketahui bahwa ia menderita penyakit ini, orang tuanya tidak lebih memeperhatikannya, tetapi malah membiarkannya hidup seorang diri dengan alasan Ken Steele sudah dewasa. Orang tuanya membiarkannya pergi begitu saja tanpa perduli lagi tentang kehidupan Steele yang terombang-ambing dalam menghadapi penyakitnya.
Rasulullah sendiri menyerukan agar mencintai, mengasuh, dan merawat anak dengan baik. Rasulullah saw memeberikan contoh kepada kita bahwasannya beliau sangt mencintai Hassan dan Hussein,memberikan perhatian besar kepada keduanya, menyayanginya, sesekali menciumnya, dan sering kali menggendong keduanya. Diriwayatkan dari Anas RA, bahwasannya Rasulullah saw pernah menyuruh putrinya, Fatimah RA “panggillah kedua putraku!” kemudian Rasulullah memeluk dan mencium keduanya.
[3]
Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi
Memberi perhatian, bimbingan, tuntunan, dan pendidikan yang baik kepada anak dengan harapan sang anak mempunyai akhlak yang baik pula merupakan bentuk cinta kasih orang tua kepada anaknya. Para orang tua sangat dianjurkan untuk itu karana anak adalah amanat yang tidak boleh disia-siakan dari Allah awt dan perbuatan itu termasuklah perbuatan baik yang diperintahkan dalam islam.
Apabila amanat itu telah disia-siakan, maka tunggu sajalah kehancurannya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya daripada akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).
Betapa tidak lingkungan keluarga sangat memepengaruhi kepribadian sang anak, karena lingkungan inilah yang terdekat dengan anak. Perlakuan yang buruk terhadap sang anak, akan membentuk kepribadian yang buruk pula, sehingga sangat mudah bagi “virus” skizofrenia merasuki anak tersebut. Misalnya, orang tua sering kali marah kepada anaknya hanya karena suatu permasalahan kecil. Kemarahan orang tua tersebut akan menimbulkan kesan yang buruk pada anak. Si anak akan merasa tidak disayangi oleh orang tuanya dan bisa saja dia mencari jalan lain untuk melindungi dirinya, atau malah dia melakukan tindakan-tindakan yang dapat memancing orang tuanya marah karena si anak ingin terus diperhatikan walaupun dengan cara yang seperti itu.
Dalam islam, sikap marah termasuk penyimpangan kepribadian atau penyakit kejiwaan. Sikap ini sangat dilarang karena ketika marah berkobar maka kesadaran nurani terhalangi. Hampir semua daya positif insani tidak dapat teraktualisasi jika kemarahan muncul. Maka Rasulullah bersabda:
Bukanlah disebut kuat orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika ia marah. (HR. Al-bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Sesungguhnya marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak Adam. Ingatlah bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan dan sejelek-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan memperlambat ridha. (HR. Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudriy).
Pertahanan diri pemarah bersifat negatif. Ia tidak segan-segan menyakiti, menyiksa, atau membunuh orang lain dan kemarahan itu muncul akibat bisikan dan campur tangan syaitan. Sesuai dengan sabda Rasul:
Sesungguhnya kemarahan itu berasal ari syaitan, dan sesungguhnya syaitan itu telah diciptakan dari api, dan api hanya dapat dipadamkan dengan air, maka apabila dari kalian marah, maka hendaklah dia berwudhu. (HR. Abu daud dari Athiyah bin Urwah Sa’di Ash-shahabi).
Penderita skizofrenia ternyata lebih banyak menjadi korban kekerasan dibandingkan dengan orang yang normal. Sebagai contoh yang diceritakan di novel, tidaklah semua rumah sakit jiwa mampu menjaga dan merawat pasien skizofrenia dengan baik. Malahan banyak dari rumah sakit itu yang justru mengancam keamanan jiwa sang pasien. Ken Steele sering mendapatkan perlakuan buruk di rumah salit tempat di mana ia dirawat. Ketika dia mengalami “kekambuhan” atau sedang dalam tekanan yang kuat, tiada satupun orang yang menolongnya, bahkan dokter sekalipun. Ia hanya diberikan obat-obat penenang yang malah merusak kerja organ tubuhnya kemudian ia dikurung di ruang pengasingan. Ia juga sering mendapatkan perlakuan pelecehan seksual yang dilakukan oleh para penjaga yang ada di rumah sakit trsebut. Kawanan penjaga itu mengikat tangan Steele di punggung, menutup matanya, dan membawanya ke kamar mandi. Petugas itu memegangi Steele dengan sangat kuat sementara tangan-tangan mereka menggerayangi seluruh tubuh Steele. Kemudian mereka bergantian menindihnya. Tidak hanya Ken Steele yang mendapatkan perlakuan seperti ini, tetapi juga teman-temannya.
Betapa tidak hal ini memberikan tekanan terhadap Ken Steele, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara kejiwaan yang tentunya lebih sulit untuk disembuhkan, apalagi bagi seoarang penderita skizofrenia yang sangat membutuhkan lingkungan psikologis yang kondusif guna membantu mangatasi masalahnya. Bagaiman penderita ini akan sembuh jika ia terus-terusan mendapat tekanan jiwa.
Islam sangat mengutuk perbuatan seperti itu karena sangat berdampak buruk bagi orang yang melakukannya ataupun bagi orang yang terkena perlakuan. Perbuatan itu sama saja dengan berbuat zalim terhadap diri sendiri dan orang lain. Sedangkan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim sebagaimana firman-Nya:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al_Qasas:50).
Secara umum dapat dikatakan bahwa gangguan kejiwaan (mental) dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti yang telah diketahui seperti hereditas, kerusakan pada daerah otak, dsb. Sedangkan faktor eksternal yaitu pengaruh yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar sang penderita.
Manusia yang lahir ke muka bumi pada dasarnya membawa potensi fitrah (suci). Nuraninya senantiasa menyeru kepada kebaikan. Gangguan jiwa (mental) seseorang akan sangat terlihat pada sikap dan perilakunya yang telah tertanam sejak ia dilahirkan ke muka bumi. Penyimpangan dan pelanggaran yang disebabkan karena factor eksternal adalah lebih banyak terfokus pada bagaimana system pendidikan yang telah diberikan kepada seseorang mulai dari ia berusia 0 tahun bahka sejak dalam kandungan hingga ia dewasa.
Telah diketahui sedikit banyaknya tentang skizofrenia. Gejala-gejalanya dan juga hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit itu hadir. Lalu bagaiman dengan proses penyembuhannya? Kebanyakan orang mengatakan bahwa penderita penyakit ini tidak akan bisa untuk disembuhkan. Sebernarnya penyakit ini masih bisa disembuhkan. Penanganan gangguan skizofrenia pada umumnya meliputi suatu usaha yang bersifat komprehensif yang melibatkan pendekatan biologis (medis), psikologis, dan sosiokultural.
Secara biologis usaha-usahanya dimulai dari pemberian obat-obatan sampai dengan bedah otak untuk menghambat perkembangan sampai menghilangkan bagian otakyang menyebabkan halusinasi dan delusi. Contoh obat-obatan antipsikotik yang popular digunakan yaitu seperti klozapin, thioridazin, risperidon,dll.
Secara psikologis, penanganan penderita skizofrenia dinilai bermanfaat karena dapat meningkatkan keterampilan social dan mengurangi isolasi dan imobilitas. Jenis penanganan dalam psikologis ini meliputi:
1. intervensi kognitif, mengenalkan demoralisasi sikap-sikap yang mereka miliki dalam menghadapi penyakitnya dan kemudianmengubah sikap itu sehingga penderita mencari bantuan jika memerlukannya dan berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat sepanjang yanga dapat mereka lakukan
2. intervensi kepribadian, mengajarkan suatu keterampilan, termasuk berinisiasi da memelihara hubungan denagn orang-orang, meminta pertolingan kepada dokter, dan tetap melanjutkan suatuaktifitas seperti memasak atau bersih-bersih
3. intervensi sosial, meningkatkan kontak antara orang-orang skizofrenia dengan orang-orang suportif, sering melalui pembelajaran berkelompok.

Salah satu pendekatan yang juga paling penting dirasakan adalah terapi keluarga. Para anggota keluarga perlu berelasi satu sama lain untuk dapat memenuhi kebutuhan emosional mereka masing-masing. Penyimpanagan komunikasi dari taraf yang tinggi dan ekspresi emosi dalam keluarga dengan orang skizofrenia, secara substansial dapat meningkatkan risiko kekambuhan. Mengingat bahwa holding environment (ruang atau lingkunag psikologia yang aman) sangat diperlukan bagi pasien skizofrenia untuk dapat merasa sejahtera, maka penting bagi keluarga untuk mengupayakan holding environment tersebut dengan memecahkan atau mengurangi konflik yang ada di keluarga. Rasulullah saw mengisyaratkan pentingnya pengaruh keluarga terhadap anak.
Setiap anak adalah dilahirkan dalam keadaan suci, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani, majusi.
(HR, Bukhari dari Abu Hurairah).
Bila diperlukan, keluarga juga dapat mencari bantuan professional dari pihak-pihakyamg terkait seperti psikiater, psikolog, dan pakar kerohanian.
Telah disinggung beberapa cara yang ditempuh untuk dapat menyembuhkan penyakit ini. Namun, hal ini masih sebatas penyembuhan secara lahiriah. Dalam islam, penyembuhan atau pengembangan itu tidak hanya sebatas lahiriah saja tetapi juga meliputi penyembuhan rohani. Merealisasikan keseimbangan antara jiwa dan raga merupakan syarat mutlak untuk menjadi pribadi normal yang dapat menikmati kesehatan jiwa. Manusia normal adalah seseorang yang memiliki jiwa yang tenang yaitu jiwa yang menitikberatkan pada aspek kesehatan dan kekuatan badan, memenuhi kebutuhan dasar dengan cara yang halal, memenuhi kebutuhan spiritual dengan berpegang teguh pada aqidah tauhid, mendekatkan diri kepada Allah swt dengan menjalankan ibadah dan beramal shaleh.
Pribadi normal dapat dilihat pada kepribadian Rasulullah saw yang talah menyeimbangkan aspek material dan spiritual. Beliau memenuhi kebutuhan jasmaninya sesuai dengan batas yang telah ditentukan begitu juga dengan kebutuhan spiritualnya, beliau melakukannya dengan penuh keikhlasan. Oleh karena itu tidak hal yang aneh jika pribadi Rasulullah saw merupakan cerminan pribadi yang sempurna. Seluruh akhlaknya merupakan cerminan dari Alquran. Allah swt telah menggambarkan sosoknya dalam sebuah ayat:
. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. ( Al-Qalam:4)
Dalam mendidik manusia, islam menempuh metode pendidikan yang bertujuan merealisasikan keseimbanga pribadi manusia antara material dan spiritualnya, karena itu, manusia diharapkan memiliki pribadi yang normal sehingga dapat menikmati kesehatan jiwanya. Berikut beberapa metode psikoterapi islam dalam upaya menyeimbangakan kepribadian manusia:
Psikoterapi melalui iman, beriman kepada Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya melalui berbagai macam aktivitas ibadah, bersikap pasarah, dan berpegang teguh pada nilai takwa demi mendapat keridhaan-Nya, dapat menciptakan kekuatan spiritual manusia dan membebaskannya dari pengaruh buruk uang dapat melemahkan aktivitas jiwa dan raganya. Sesuai sabda Rasul:
Demi tuhan, seandainya kalian selalu bersamaku dan selalu berzikir, maka niscaya para malaikat selalu menyapa kalian di tempat tidur dan perjalanan kalian. Bahkan ketahuilah wahai Handzalah, hal tersebut dapat terjadi setiap jam hingga tiga kali (sehari).
(HR. Muslim dan Tirmidzi)
Barangsiapa ridho menjadikan Allah swt sebagai Tuhannya, islam sebagai agamanya dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasulnya, maka surga baginya merupakan keniscayaan.
psikoterapi melalui Shalat, shalat mempunyai pengaruh yang sangt efektif untuk mengobati rasa sedih dan gundah yang menghimpit manusia. Ketika manusia melakukan shalat dengan khusuk dan ikhas, maka jiwanya akan merasa tenang dan tentram.
. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',. ( Al-Baqarah:45)
Abu hurairah berkata bahwa dia pernah mengadu sakit perut, kemudian rasulullah saw berkata:
“Isyikamat dard? Aku menjawab: “ iya wahai Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw berkata: “ berdirilah dan tunaikan shalat, sesungguhnya shalat itu merupakan obat
Psikoterapi melalui puasa, banyak sekali manfaat yang dapat kita rasakan dari ibadah puasa, diantaranya ialah menguatkan dan menumbuhkan kemampuan jiwa manusia dalam mengendalikan hawa nafsunya.
Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ( Al-Baqarah: 183)
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan menyambut dengan suka cita, maka akan diampuni semua dosanya yangtelah lewat.
(HR. Syaikhan, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Psikoterapi melalui zikir, beribadah kepada Allah swt secara terus-menerus, berzikir, dan meminta ampunan-Nya, dapt mendekatkan seseorang dengan Tuhannya. Ia selalu merasa berada dalm lindungan-Nya, membangkitkan perasaan puas dan lapang dada, serta melahirkan ketenangan dan kedamaian dalm jiwanya.
Allah berfirman:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Diriwayatkan dari Abu Hrairah RA dan Abu sa’id RA, bahwa Rasulullah pernah bersabda:
Tidaklah suatu kelompok yang duduk berzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat. Mereka mendapat limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah swt akan mengingat mereka dari seseorang yang diterima di sisi-Nya.
(HR. Muslim dan Tirmidzi).
Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan, dapatlah disimpulakan bahwa skizofrenia bukanlah penyakit seperti apa yang pernah kita bayangkan selama ini. Penyakit ini dapat disembuhkan dan dicegah, tentunya dengan membenahi faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit ini.
Segala bentuk pengobatan dan psikoterapi jug dapat dilakuan unutuk mengeluarkan seseorang dari belenggu skizofrenia. Namun, hal ini tidaklah dapat trealisasikan tanpa adanya kerja keras dari pihak-pihak yang bersangkutan terutama semangat dan usaha dari penderita itu sendiri. Sebagaimana Allah swt telah mengingatkan kita dalam firmannya bahwa sesuatu yang kita inginkan atau yang kita harapkan tidaklah akan terwujud jika kita tidak mau berusaha dengan optimal. Tentunya usaha ini tidaklupa diiringi dengan doa.
. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Arra’du:11)



REFERENSI
Mujib, Abdul. 2006. Kepribadian dalam Psikologi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Najati, Muhammad ‘utsman. 2004. Psikologi dalam Perspektof Hadist. Jakarta: Pustaka Al Husna Baru.
Rifa’I, Moh. 1980. 300 Hadist Bekal da’wah dan Pembina Pribadi Muslim. Semarang: Wicaksana
Arif, Iman Setiadi. 2006. Skizofrenia (memahami dinamika keluarga pasien).Bandung: Refika Aditama.
Wiramihardja, Sutardjo. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama.
Rasjid, sukiman. 2002. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Najati, Muhammad Utsman. 2005. Alquran dan Psikologi. Jakarta: Aras Pustaka.
Adz-Dzaki, M. Hamdani Bakran. 2002. Konseling dan Psikoterapi Islam Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Al-Mundziri, Imam. 2001. Ringkasan Shahih Muslim Jilid 1 dan 2. Jakarta: Pustaka Amani.


[1] Prof. Dr. sutardjo A. Wiramihardja, Psi, Pengantar Psikologi Abnormal, (Bandung, Refika Aditama, 2005) hal. 41-42
[2] Dr. H. Abdul Mujib, M. Ag, Kepribadian dalam Psikologi Islam,( Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2006) hal. 374
[3] DR. Muhammad ‘Utsman Najati, Psikilogi dalam Perspektif Hadist,( Jakarta, Pustaka Al Husna Baru, 2004) hal.90


Sabtu, Juli 26, 2008

Pengalaman Pertama

Bersama sahabat berproses menjadi trainer sejati =)







Pengalaman pertama manjadi seorang trainer emang menakjubkan,, banyak hal yang didapat, banyak hal yang dipelajari, dan banyak hal pula yang harus dievaluasi. pengalaman yang benar2 tak kan terlupakan, moga pengalaman pertama ini menjadi batu loncatan bagiku untuk benar2 menjadi seorang trainer sejati =)

Minggu, Juli 13, 2008

arti penerimaan

ga semua orang punya pndangan yang sama
ga semua orang punya prinsip yang sama

aq tau,
ga mudah menerima orang yang ga sesuai dengan apa yang tlah terpatri di diri
tapi aq ga tau,
klo ada orang yang bisa menerima orang lain itu apa adanya,
cukup orang lain itu baik baginya, itu saja, ga lebih!

apa sebenarnya arti penerimaan?

Kamis, Juli 10, 2008

Doain yah,,,

hm,,,
sekarang lagi sibuknya-sibuknya nyiapin acara perdana,,
aku dan enam orang temanku yang tergabung dalam STC,, what that? STC itu Self Training Center,, akan memulai mewujudkan mimpi yang telah kami ciptakan bersama,,
meniti karier dari hal yang kecil,, dan semoga menjadi hal yang besar,,

truz,, apa lgi yah?? koq susah seeh mo nulis pa? huh.. gara2 dah lama ga nulis ne,,

o ya, persiapan saat ini udah sekitar 80 persen, tapi sayang ga semua yang ada di tim yang bisa ikut,, yah walaupun begitu ntar doanya tetap bakal ikut mnyertai acara perdana ini,,

setiap perjuangan pasti ada hambatannya, sekarang sepertinya situasi kurang sedikit mendukung, di tempatku, kanya sedang terjadi kemarau BBM dan listrik, cukup menyulitkan juga..
but, its ok! itulah tantangan, ya kan?!
so...... kenapa mesti dipikirin! dijalanin dunk,,,!!

duh....
koq ga enaknya ceritanya
udah dulu deh, awal keberbangkitan untuk menulis kanyanya cukup sekian dulu and..

doain yah,, semoga apa yang akan kami lakukan ini bermanfaat untuk semua yang terlibat,,,

MISS U...

sudah cukup lama aq meninggalkanmu,
semenjak banyaknya tugas yang harus aq selesaikan,
semenjak rentetan ujian yang harus aq lewatkan,,


BlogsQu...
kini aku datang kembali padamu,
semoga kita masih bisa berbagi,,


Jumat, Februari 29, 2008

Puisi malam,,,

Puisi malam,
Aku bernyanyi syahdu dalam hati,
di tengah-tengah alunan melodi jangkrik berceloteh,
di antara getaran-getaran sayap nyamuk berterbangan,
di keramaian derap langkah manusia bertebaran,

Puisi malam,
Bulanpun mendengar nyanyian sunyiku,
Bintang juga ikut menari berarak-arak bergandengan,
Sayup-sayup angin menyusup perlahan dengan irama yang pasti,
Dapatkah kau saksikan?
Pertujukan malam yang sempurna,

Puisi malam,
Aku duduk di sini terpesona oleh sebuah keagungan,
Menyaksikan goresan demi goresan,
Untuk sebuah puisi malam,,

27 Januari 2008

Jumat, Februari 15, 2008

Maafku di Penghujung sore


Kini, hanya tersisa maaf di penghujung sore
Setelah apa yang kulakukan padamu
Ku ubah kau dengan caraku
Tanpa sadar,
T’lah kugoreskan tinta hitam di lautan biru hatimu
Hingga kau miris karena keegoanku

Satu kata terucap….
Dengan harap, kau hapus kesalahanku
Biarkan ia tenggalam bersama matahari di ufuk barat
Karenanya, kuhanturkan maaf di penghujung sore
Agar kulihat senyummu di titian mentari pagi
Untukku,

Sabtu, Januari 26, 2008

Monyet Mengeong,,,


Simonyet, sebuah nama yang kuberikan kepada hewan peliharaanku, seekor kucing, berkaki gajah, bermuka singa [ ad gt?? ]. Itu Cuma sekedar ungkapan buat simonyetku tersayang. Kaki gajah menggambarkan klo ia gemuk dan sehat, muka singa melukiskan (mang lukisan?..) klo ia punya muka yang bulat dan matanya yang besar berbinar, ditambah lagi dengan rambut kuning emasnya di bagian punggung dan putih di bagian perut, ( lucu…. Bgt,, cb deh liat langsung,, )

Aku sangat sayang dengan simonyetku ini, sampe2 kuanggap adikku sendiri, lho?? Hehe…. Tidak hanya aku, kelurgaku juga menyayangi simonyet, kakakku, ayahku, ibuku, dan nenekku.

Di rumahku, simonyet bukan hanya sebagai hewan paliharaan, ia juga sebagai “peramai’ kehidupan rumah. Ia pun cukup diperlakukan istimewa. Mulaii dari pola makannya sampai tidurnya. Untuk makan ia tidak hanya menyantap sisa tulang-tulang yang kamii makan, tetapi juga ada menunya tersendiri, misalnya jika ibuku membeli ikan maka kepala ikan itu di gorengkan untuknya, klo ga, emang sengaja dibeli satu ekor ikan kemudian digorengkan untuknya. Ia juga punya tempat makan sendiri, sebuah piring melamin berwarna “pink”, di sana ia biasa makan dengan nasi, tentunya yang sudah dicampur ikan. Si moyetku yang satu ini, frekuensii makannya melebihi makan anggota keluarga yang lain, klo kita biasa makan tiga kali sehari, untuknya lima sampai enam kali sehari. Biasanya subuh-subuh ibuku bangun ia udah minta makan, eh pas sarapan ia jg minta lagi. Biz gt biasanya jam sepuluhan atau sebelasan setelah masak ia datang lagi “meong…meong…” sambil mengelus-ngeluskan dirinya di kakiku, hm… pertanda simonyet minta makan,, =). Waktu makan siang tiba ia pun ikut makan begitu juga ketika malam hari,, selalu hadir deh dalam sesi makan-memakan,, ( gmn ga gemuk coba??),, tapi biasa seeh namanya juga kucing, bukan monyet, hehe….

Klo urusan tidur, ia juga ga mau kalah. Kasur dan selimutlah tempat ia bersemayam ketika malam datang. Ia tidur bersama orangtuaku. Buat tidur siang ia bisanya tidur di kursi atau di kamarku. Aku ga dibolehkan tidur malam hari bersama simonyet, tau tuh kenapa??,,
Simonyet itu manja bgt, ngegemesin,,, klo ibuku pulang dari kerja ia langsung menghampirinya dan mengelus-ngeluskan badannya ke kaki ibuku, “meong…meong…” klo yang ini tandanya dia minta disayang-sayang, di gendong atau dielus-elus lehernya. klo kebutuhan dasar ama rasa amannya simonyet dh terpenuhi (makan), maka timbullah kebutuhannya akan rasa menyayangi dan disayangi, ( ternyata teorinya Maslow ga hanya berlaku buat manusa aj,, hewan jg loh!! Hehe…). Begitu deh dia,, suka nyamper ndiri, meong-meong sambil ngelus-ngelusin badannya. Kadang-kadang klo aku lagi baca sambil tidur2an, hm… simonyet mulai deh beraksi. Klo aku terlungkup, ia naik ke pungung, aku terlentang naik ke perut, aku miring eh, naik ke pinggang. Duh… simonyet klo ga tidur2ran di antara kedua kaki,, hm… ktnya Vigotsky ZePeDe…,, alias ZPD, Zona Proximal Development, lho koq ngelantur toh?? Hehe,,,

Simonyet memang istimewa, ia bisa menjadi teman di saat sendiri, menjadi penghibur di saat sedih, terkadang juga bisa jd tempat pelampiasan kemarahan tanpa banyak protes ( duh,,, cimon simonyet ), tp jarang bgt koq simonyet dimarahi, gmn mo marah coba liat mukanya aja ngegemesin….,,, =). Pokoke simonyet ga da duanya deh, hewan peliharaan terlucu yang pernak aku punya.
“ simonyet,, pusss,, sini..!!! Meong….meong…meong….”



NB: Buat "duo" simonyetku tersayang,,

Minggu, Januari 06, 2008

Akhirnya Terjadi juga...

Akhirnya "Sang Ratu Kejahilan" di jahilin juga.

siapa yang nyangka "Sang Ratu" tertangkap di kerajaan musuh

sungguh meruntuhkan martabat seorang pemimpin negeri KEJAHILAN

He... He... He....,,


Af1 ukhti,, aq ga da maksud apa2 koq. cuma sedikit menjelaskan kejadian besar pada tanggal 04 Januari 2008 di villa angker,,

moga kejadian itu memberikan hikmah tersendiri buatmu, and moga kamu lebih bijak dalam menyikapi hal apapun dalam hidup ini

Met ultah ya Ukhti Maihan,, yg ke 19 tahun ( hmm.. dh dewasa tuh kayanya )
tetaplah jadi sahabat terbaik bagiku,, menuntunku untuk menemukan apa arti hidup yang sesungguhnya,,,

be the best Muslimah,,, =)


"Tamu"

Aku cukup dikejutkan oleh kedatangan "tamu" yang awalnya kupikir ingin menemui temanku. Namun ternyata "tamu" itu mencariku. "muti, ada yang nyari ne!". Aku tidak menghiraukan perkataan temanku itu karena kupikir ia hanya bercanda. "cepetan muti, ada yg nyariin!". kini ku tau kalau temanku itu tidak bercanda. akhirnya kuberanjak dari tempat berpijakku untuk menemuinya. "siapa seeh sore-sore gini nyariin aku?".
Ternyata dia......."untukmu". ia memberiku sesuatu benda yang dibungkus dengan plastik putih, terkejut ku sesaat. "makasih", hanya itu yang dapat kuucapkan. "Maaf telat ngasihnya, jadi kering tu kado d'lama-lamain, dah niat koq nunggu 25..... .Oww,, ternyata itu hadiah ulang tahunku yang baru lewat beberapa hari saja.

*******

Ku keluarkan benda itu dari plastik putih yang membungkusnya. kutemukan sebuah benda, ku kira ini buku, yang dibalut kertas kuning-orange bermotif. Ku buka perlahan, HITAM PUTIH CINTA, dan kutemukan secarik kertas di dalamnya,

Ass ukhti...

Met Ultah ya...

Aku ga begitu berharap ini jadi kado ulang tahun yang paling spesial yang pernah U terima...
Aku juga ga terlalu berharap ini bakal berkesan di hati U...
Tapi dengan U terima ini aja, aku dah seneng mut.
Makasih ya...

Moga 'ultah' tahun ini bisa jadi titik balik positif buat U, dan aku akan selalu menunggu perubahan dari seorang teman baik yang sedikit banyaknya dah bantu aku.
Thx 4 everything....


Subhanallah...., cukup membuatku terkesan. Sesaat terlintas semua hal yang pernah terjadi padaku, masa lalu, ya masa laluku. Ah..... sudahlah, masa lalu tak akan pernah kembali , masa depan telah menanti kedatangnku, dan saat yang sedang kujalani sekarang sangat membutuhkanku. Aku telah memilih jalanku sendiri. Begitu juga ia.....


02 januari 2008